Feeds:
Posts
Comments

L.i.f.e.

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh,

Hhhh, sudah berbulan-bulan nggak sempet menengok blog ini. Sampai hampir lupa kalo punya blog hehe.

Ada beberapa kegiatan akhir-akhir ini di Jakarta yg membuat aku begitu seperti kehabisan waktu. Pekerjaan yg banyak menyita waktu. Rutinitas keseharian yg dihiasi dgn macet di jalan yg makin luar biasa. Mengurus sekolah dan kepindahan istri dan anak-anak dari Medan ke Jakarta, pindah rumah dari Depok ke Pejaten,  etc…etc….

Namun demikian, semangat dan gairah menghadapi berbagai macam dinamika kehidupan yg tetap menyala dalam diri ini membuat aku begitu santai (in the  positive perspective) menghadapinya. Hidup dan kehidupan adalah salah satu anugerah yg terindah yg diberikan oleh Allah kepada manusia, agar manusia diberikan ujian, manakah di antara mereka yg sungguh-sungguh beriman dan mana yg kufur…..

So, just enjoy life, be better as much as you can and tawakkal

Kembali ke Jakarta

Hhh….. sudah 3 bulan lebih nggak mengunjungi blog ini. Udah 2 bulan lebih aku kembali ke Jakarta, sementara anak-anak dan istri masih di Medan.

Ada senang ada sedih, senang karena kembali ke kota asal aku berada, kembali kepada keluarga besar di Jakarta. Sedih juga karena masih menunggu anak-anak dan istri untuk kumpul kembali bersama. Insya Allah, akhir Juni nanti kami akan kumpul kembali semua.

Agak kaget juga dengan situasi lalu lintas yg makin padat dan makin macet. Ah, Jakarta, semakin pengap aja hehehe…..

Tapi bagaimanapun, di Jakarta ini semakin mudah untuk mendapatkan siraman rohani, banyak kajian-kajian Islam yg tersebar di seluruh pelosok kota Jakarta dan sekitarnya.

Inilah yg senantiasa aku syukuri, semoga Allah memudahkan jalan menuju jalan yang di-ridho’i Nya…

Wassalam,

Hari ini tepat tanggal 30 Dzulhijjah 1430 H. Insya Allah selepas maghrib nanti akan masuk ke tahun yang baru yaitu 1431 Hijriyah. Yah, benar kita telah memasuki tahun yang baru. Seluruh jamaah haji di Mekkah telah menyelesaikan seluruh rukun haji, sebagian jamaah Indonesia telah sampai kembali ke tanah air, sebagian lagi mungkin masih di sana menunggu waktu untuk kembali ke Indonesia.

Firman Allah :

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Q.S. Ali Imran : 190 – 191)

Siang dan malam berganti, adalah sebuah keniscayaan, sebuah sunnatullah yang tidak mungkin akan diingkari oleh siapapun. Manusia, sadar atau tidak sadar akan terus mengikuti pergerakan waktu yang terus berjalan menuju sebuah titik, to the point of no return.

Tinggal kita mengingat kembali, apa yang telah kita perbuat di tahun 1430 yang akan segera berlalu, kemudian, apakah yang akan terjadi di tahun 1431 yang akan segera datang ini. Sungguh, kita bisa berkata, telah ribuan peristiwa terjadi di 1430 dan akan segera menjadi kenangan. Dan mungkin jutaan peristiwa akan terjadi di 1431 ini, kita tidak tahu. Sebagaimana ayat Quran di atas, tanda-tanda atas perjalanan waktu hanya bisa dimengerti dan dipahami oleh orang-orang yang berakal. Yaitu orang yang senantiasa mengingat Allah, dzikrullah atas segala kebesaran ciptaan-Nya. Adakah kita termasuk orang-orang yang berakal tersebut? Waallahu a’lam. Namun tak henti kita berupaya dan berharap agar kebaikan demi kebaikan yang akan dapat kita raih di tahun yang akan datang ini. Semoga Allah senantias membimbing kita ke jalan yang di-ridhoi-nya.

Selamat datang 1431 H….kami menyambutmu dengan segenap suka cita dan harapan…

Wassalam,

Anto_Medan

It’s a New House ….

Sudah agak lama aku nggak mengunjungi dan menulis sesuatu di blog ini. Banyak juga peristiwa-peristiwa yang luput dari pengamatanku akhir-akhir ini. Tapi tak mengapa, toh kita tidak bisa mengingat semua peristiwa yang terjadi pada diri kita, apalagi hal-hal yang rutin-rutin saja, biarlah dia menjadi milik sang waktu.

Yang paling terasa, sekarang aku sekeluarga telah pindah rumah di sebuah perumahan yang baik di Kota Medan di jalan setiabudi. Ini rumah yang ketiga yang kami tempati selama 3 tahun berada di Kota Medan. Boleh dibilang ini adalah sebuah comeback bagi kami sekeluarga, karena ketika pertamakali kami hijrah (lebih tepatnya dihijrahkan) ke Kota Medan ini, kami sekeluarga menempati rumah dinas yang terletak di perumahan ini selama setahun. Kemudian kami sempat pindah dan keluar dari perumahan ini selama dua tahun. Akhirnya kami merasa cocok dan kembali menempati rumah di perumahan ini walau bukan rumah kami yang lama.

Agak instant juga keputusan memilih rumah yang sekarang kami tempati, karena mepetnya waktu untuk memilih, sedangkan waktu sewa di rumah kami yang lama udah hampir berakhir. Tambahan lagi, rumah ini sebenarnya udah diminati oleh calon penyewa lain yang udah 2 minggu terlebih dulu menyatakan akan menyewa rumah ini. Namun entah mengapa, sang pemilik rumah terlihat dan terkatakan olehnya bahwa mereka lebih suka kalau kami yang menjadi penyewanya. Alhamdulillah, karena calon penyewa rumah tsb tidak segera memberikan konfirmasi, akhirnya si pemilik rumah memberikan kepada kami untuk menjadi penyewa tumah tsb.

Alhamdulillah, yang pasti rumah tsb tidaklah mewah, sederhana namun asri dan enaknya dekat dengan berbagai fasilitas. Dekat ke sekolah anak-anak, bahkan cukup berjalan kaki, dekat ke supermarket, dekat dengan dokter, tidak perlu repot-2 kalau mau sport atau jogging, dan yang membahagiakan, karena dekat dengan masjid.

Rasanya terlampau banyak Allah Azza Wa Jalla memberikan kemudahan-kemudahan dalam kehidupan kami. Manalah pantas kami tidak bersyukur, dan berharap semoga ini semua adalah memang sebuah rahmat Nya, dan bukan merupakan azab yang tertunda, na’udzubillah. Ya Allah ampunilah dosa-dosa kami, semoga Engkau tetap memantapkan iman, hati dan perbuatan kami semata-2 hanya ikhlas karena Engkau ya Allah….

Anto_Medan

29-10-2009

*Bersihar Lubis

BAHASA anak Medan, sudah kolaps?

Sudah lama tak kita dengar kata “awak” yang dapat berarti “saya” atau bisa “kau.” “Hebat kali awak ini” artinya “Hebat kali kau.” “Angek” artinya iri, tak suka, atau cemburu. “Bedangkik” itu pelit. Yang unik adalah “bocor alus” alias “agak gila.”

Seraya merayakan Hari Sumpah Pemuda, bahasa anak Medan bagai posisi rupiah dihegemoni dolar. Kuliner asing menggusur kuliner domestik. Anak-anak muda Medan ketularan bahasa Jakarte berlogat Betawi. Jakarta selalu menjadi model, dan kita pun kehilangan jati diri. Apa itu “bonbon”? Bukan bill pembayar minuman di kafe. Tapi, permen. Masih ada “cengkunek” padanan “lagak” atau “banyak ngomong.” “Banyak kali cegkuneknya,” kata seseorang. “Dongok” itu adalah pandir. Masih ada temannya, yakni “bedogol.” Tapi “deking” berasal dari “beking” yang tadinya “backing” (bahasa Inggris). Ada pula “enceng” saat bocah minta berhenti bermain entah main “alip cendong.” Ada pula “ecek-ecek” yang berarti “pura-pura” atau seolah-olah. “Negara ecek-ecek” berarti negara seolah-olah. Pernah mendengar “gacok”? Artinya, jagoan. “He, bung, siapa gacok kau.” Kalau “getek” ini artinya “genit.” “Hajab” berarti “hancur.” “Hubar-habir”, ya, berantakan atau amburadul. Amat unik adalah “honda.” Walau merek sepeda motor itu lain, disebut juga “honda.” “Kalian” di Medan berubah menjadi “kelen” atau “kelien.” Tapi kalau “kereta” tetap saja “kereta” yang artinya “motor.”

Seorang anak Medan di Jakarta, bercerita bahwa jika dia apel sang pacar di malam minggu selalu dengan naik kereta. “Luar biasa, Anda naik kereta, gimana caranya.” Maklum di Jakarta, arti “kereta” adalah kereta api. Kereta yang dimaksud anak Medan itu, di Jakarta disebut “motor.” Padahal, di Medan, “motor” itu adalah “mobil.” Masih ada kata “limpul” yang berarti Rp 50. “Limrat” itu Rp 500. Adapun “minyak lampu” maksudnya “minyak tanah” yang hendak digusur gas Elpiji. Aha, yang satu ini saya kena. Yakni, “manipol” sebagai akronim dari “Mandailing Polit.” Sangat stereotip, ya? Padahal, mungkin maksudnya efisiensi yang cocok dengan ekonomi modern. “Ngeten” berarti “mengintip.” Pernah dengar “raun-raun”? Dari bahasa Inggris, “round” yang artinya “jalan-jalan keliling kota.”

Problem terbesar adalah kecintaan, semangat yang kini mengendur. Nasionalisme bukan Chauvinisme yang menolak Kentucky Fried Chicken. Pertama-tama tentu saja harus “berdaulat” di negeri sendiri. Tapi jika dalam “berbahasa” saja kita tak percaya diri, apalagi hendak membangun ?

JAHE, Minuman Surga

wedang-jahe1

Di dalam surga, mereka diberi segelas minuman yang campurannya adalah jahe.” (QS Ad-Dahr 17)

 

Bagi kita yang hidup di Indonesia, rempah-rempah yang disebut jahe ini tentu sudah tidak asing lagi. Di samping lazim sebagai bumbu masak, sari jahe jika diseduh dengan air panas dan ditambah dengan sedikit pemanis, maka jadilah minuman yang sedap dan menghangatkan.

Tentu, akar rimpang yang tercatat dalam Al-Qur’an dan disebut “minuman surga” ini diminati bukan hanya karena kelezatannya. Lebih dari itu, Allah Subhana Wa Ta’ala telah menciptakan jahe sebagai rempah kaya akan kandungan kimia yang bermanfaat bagi nutrisi dan obat-obatan.

Para ulama sudah mengenal sejak lama bahwa jahe bisa digunakan sebagai obat beberapa penyakit. Dalam Al-Adab As Syar’iyah (3/28), Ibnu Muflih al Hanbali (763 H) menjelaskan bahwa rempah-rempah yang populer di dunia Arab dengan sebutan zanjabil ini bisa menghilangkan gangguan pencernaan yang disebabkan jumlah udara gas yang berlebihan dalam perut. Selain itu juga mengurangi resiko yang disebabkan makan beku dan kenyal, serta membantu memudahkan proses pencernaan.

Pandangan para ulama itu juga diakui oleh dunia farmasi modern. Dalam British Journal of Anaesthesia vol.84 (2006) disebutkan bahwa untuk mengatasi mual dan muntah, jahe bisa diandalkan. Karena jahe mampu mem-blok serotonim, yakni senyawa yang menyebabkan perut berkontraksi. Juga kandungan gingerols yang ada dalam jahe bisa digunakan sebagai peringan rasa sakit.

Bahkan dalam British Journal of  Nutrition vol.96 (2006), beberapa ahli biologi Universitas Kuwait menjelaskan hasil percobaan mereka. Hasilnya, rempah-rempah yang memiliki nama latin Zingiber offcinale ini amt bermanfaat bagi penderita penyakit diabetes melitus, karena bisa menurunkan glukosa, kolesterol dan kadar protein dalam air seni secara signifikan.

Secara ilmiah juga,  jahe terbukti mampu melawan bakteri escherichia coli, penyebab penyakit diare, yang telah dibuktikan beberapa ilmuwan dari Departemen Mikrobiologi China, yang dimuat dalam Jurnal Agricultural and Food Chemistry, vol 55 (2007).

Dalam tradisi pengobatan herbal di negeri ini, jahe yang dilumatkan sering digunakan sebagai pertolongan pertama terhadap luka akibat gigitan ular berbisa. Walhasil Allah Subhana wa Ta’ala telah memberikan banyak nikmat dan manfaat kepada manusia lewat rempah ini. *Thoriq/Suara Hidayatullah

Dikutip dari Majalah Hidayatullah edisi 12 April 2009

 

I’tikaf yuukk…..!!!

itikaf_dsc06650
I’tikaf yuukk i’tikaf …!!
Today at 8:33am
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh,
Puasa Ramadhan sudah menjelang akhir, sunnah Rasulullah mengisyaratkan aktivitas I’tikaf menjelang berakhirnya Ramadhan, utamanya adalah 10 hari terakhir.

Mari kita amalkan sunnah mulia di bulan Ramadhan ini semampu kita, mumpung kita masih jumpa bulan Ramadhan. Karena kita sungguh tak tahu apakah akan bisa jumpa Ramadhan di tahun-tahun mendatang. So, jangan sia-siakan kesempatan meraih ikebajikan sebanyak-banyaknya.

Namun demikian, ada baiknya kita pahami terlebih dahulu syarat-syarat dan rukun I’tikaf, agar mantap kita melakukan ibadah ini …………..

Wassalam

ITI’KAF DAN SYARAT-SYARATNYA

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apakah iti’kaf pada bulan Ramadlan termasuk sunnat mu’akkad dan apa syaratnya pada selain Ramadlan .? [Athif Muh.Ali Yusuf, Riyadh]

Jawaban.
Iti’kaf pada bulan Ramadlan adalah sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta para istrinya setelah beliau tiada. Bahkan ulama sepakat bahwa itikaf disunnatkan. Tetapi sepatutnya itikaf dilakukan sesuai dengan yang diperintahkan, yakni seseorang selalu berada di masjid untuk ta’at kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan meninggalkan kegiatan duniawinya dan mengerjakan berbagai keta’atan berupa shalat, dzikir atau lainnya. Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam beritikaf dalam rangka menemukan malam kemuliaan (Lailatul Qadar). Yang sedang itikaf itu menjauhi segala aktivitas dunia ; tidak jual atau beli, tidak keluar masjid, tidak mengantar jenazah dan tidak menengok yang sakit.

Ada sebagian orang beritikaf lalu ditemui beberapa orang pada tengah malam atau di ujung hari dengan diselingi obrolan yang diharamkan, maka cara seperti ini menghilangkan maksud itikaf. Kecuali bila dikunjungi oleh salah seorang keluarganya, seperti Shafiyyah pernah mengunjungi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sedang beritikaf dan berbincang-bincang. Yang penting hendaknya seseorang menjadikan itikafnya sebagai cara mendekatkan diri kepada Allah.

BOLEHKAH ITI’KAF SELAIN KETIGA MASJID

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Bolehkah beritikaf pada selain ketiga masjid dan apa dasar hukumnya .?

Jawaban.
Beritikaf pada selain ketiga masjid (Masjidil Haram, Masjid Nabi dan Masjid Aqsha) adalah boleh berdasarkan makna umum firman Allah :

“Artinya : Janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid”. [Al-Baqarah : 187]

Ayat tersebut berlaku untuk segenap kaum muslimin. Jika kita katakan bahwa yang dimaksud masjid dalam ayat di atas hanya ketiga masjid, tentu banyak kaum muslimin yang tidak terpanggil, sebab mayoritas kaum muslimin berada di luar Mekkah, Medinah dan Qadas (Palestina).

Dengan demikian, kami katakan bahwa itikaf boleh pada masjid-masjid yang ada. Jika hadits mengatakan bahwa tidak ada itikaf kecuali dalam tiga masjid, maka maksudnya adalah tidak ada itikaf yang lebih sempurna dan lebih utama kecuali tiga masjid. Memang seperti itu kenyataannya. Bahkan bukan sekedar itikaf, nilai shalatnya punya kelebihan tersendiri. Yakni shalat di Masjidil Haram bernilai seratus ribu shalat. Shalat di Masjid Nabawi lebih baik dari seribu shalat kecuali di Masjidil Haram dan shalat di Masjidil Aqsha’ bernilai lima ratus shalat. Inilah pahala-pahala yang dapat diraih seseorang dalam ketiga masjid tersebut, seperti melaksanakan shalat berjama’ah, shalat kusuf dan tahiyatul masjid. Sedangkan shalat sunat rawatib (sebelum atau sesudah shalat fardu) lebih baik dilaksanakan di rumah. Karena itu, kami katakan di Mekkah : “Shalat rawatibmu di rumah lebih baik dari pada di Masjidil Haram. Begitu pula yang dilaksanakan di Madinah, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika berada di Madinah bersabda :

“Artinya : Sebaik-baik shalat sunat seseorang adalah di rumahnya kecuali shalat maktubah (wajib)”.

Sedangkan shalat Tarawih walau sunnat tetap lebih baik dilaksanakan di masjid karena diperintahkan agar dilaksanakan secara berjama’ah.

BOLEHKAH YANG BERITI’KAF MENGAJAR SESEORANG

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Sahkah orang yang sedang beri’tikaf mengajarkan ilmu kepada seseorang .?

Jawaban.
Sebaiknya orang yang beritikaf mengkhususkan dirinya untuk melakukan ibadah-ibadah tertentu seperti dzikir, shalat, membaca Al-Qur’an atau hal lainnya. Namun jika dibutuhkan, tak ada halangan baginya mengajari seseorang, sebab inipun termasuk ke dalam makna dzikir kepada Allah.

BERKOMUNIKASI DENGAN YANG BERI’TKAF MELALUI TELEPON

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Bolehkah yang sedang beri’tikaf berkomunikasi melalui telpon untuk memenuhi kebutuhan kaum muslimin ..?

Jawab :
Memang dibolehkan bagi yang sedang beri’tikaf mengadakan komunikasi melalui telpon dalam memenuhi kebutuhan sebagian kaum muslimin, bila telpon itu berada di dalam masjid tempat i’tikafnya, sebab ia tidak keluar masjid. Kecuali jika telpon itu berada di luar masjid, maka ia tak boleh pergi meninggalkan i’tikafnya. Seseorang tidak boleh beri’tikaf bila sedang mengurus kepentingan kaum muslimin, sebab mengurus kepentingan umum itu lebih penting dari pada i’tikaf, kecuali jika kepentingan umum itu sedikit manfaatnya.

[Disalin dari buku 257 Tanya Jawab Fatwa-Fatwa Al-Utsaimin, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, hal.230-235, terbitan Gema Risalah Press, alih bahasa Prof.Drs.KH.Masdar Helmy]

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.